FILSAFAT SENI

Wednesday, November 7, 2012



A.    Teori Seni

Teori seni merupakan gabungan antara dua suku kata, yaitu terdiri dari teori & seni. Agar kita dapat memahami definisi teori seni, maka kita harus mengerti terlebih dahulu apa itu teori dan apa itu seni. Berikut bebearapa pengertian Teori menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, teori adalah:
·         pendapat yg didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi.
·        penyelidikan eksperimental yg mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi.
·         asas dan hukum umum yg menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan
·         pendapat, cara, dan aturan untuk melakukan sesuatu.
·          pendapat yg dikemukakan sebagai  keterangan mengenai suatu peristiwa.
Dari beberapa defini di atas yang dikutip dari kamus besar bahasa indonesia (KBBI) online, dapat di simpulkan bahwa TEORI adalah pendapat yang terlahir dari pola fikir akal manusia terhadap sesuatu yang telah melewati proses penelitian & uji coba sehingga mampu menghasilkan fakta yang bisa di terima oleh akal.
Sedangkan pengertian SENI  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, pengertian seni terbagi menjadi tiga :
·         Seni diartikan halus, kecil dan halus, tipis, lembut dan enak didengar, mungil dan elok.
·         Keahlian membuat karya bermutu (dilihat dari segi keindahan dan kehalusannya)
·         kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi
Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara, seni merupakan perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya dan bersifat indah sehinga dapat menggerakkan jiwanya.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa seni adalah sesuatu yang indah, hasil ungkapan perasaan seseorang yang dilahirkan melalui sebuah karya seni, dan dapat dinikmati keindahannya.
Jadi, Teori Seni yang dapat di simpulkan dari beberapa sumber di atas adalah: Pendapat terhadap suatu keindahan melalui proses penelitian dan uji coba lapangan sehingga dapat mengarahkan dan mempermudah dalam menciptakan suatu karya seni berdasarkan prinsip ilmunya.

Dan kaitan ilmu filsafat terhadap seni memiliki hubungan yang erat, karena estetika (keindahan) dalam seni merupakan bagian dari filsafat. Agar seni dapat selalu berkembang secara dinamis namun tidak bergeser dari akar filsafat seni yaitu keindahan, hendak'lah para pelaku seni berupaya untuk selalu menciptakan sebuah karya seni tidak lepas dari akar filsafat seni itu sendiri yaitu estetika. Dengan menciptakan suatu karya demi keindahan maka secara otomatis karya-kaya seni yang dihasilkan, akan selalu tercipta secara estetis, bagi diri sendiri maupun untuk orang lain.
B.     Metafisis (Metafisika)
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan. Lantas, apabila Seni dikaji berdasarkan ilmu filsafat metafisis (metafisika), pasti pertanyaan yang terlintas di fikiran kita adalah apa itu metafisis (metafisika).
Metafisika adalah salah satu cabang Filsafat yang mempelajari dan memahami mengenai penyebab segala sesuatu sehingga hal tetrtentu menjadi ada. Menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) online, metafisk atau metafisika adalah ilmu pengetahuan yg berhubungan dengan hal-hal yang nonfisik atau tidak kelihatan.
Sebagai sebuah disiplin filsafat, metafisika telah dimulai sejak zaman yunani kuno, mulai dari filosof-filosof alam sampai Aristoteles (284-322 SM). Aristoteles sendiri tidak pernah memakai istilah ”metafisika”. Aristoteles menyebut disiplin yang mengkaji hal-hal yang sifatnya di luar fisika sebagai filsafat pertama (proto philosophia). untuk membedakannya dengan filsafat kedua, yaitu disiplin yang mengkaji hal-hal yang bersifat fisika. Istilah metafisika yang kita kenal sekarang, berasal dari bahasa Yunani ta meta ta physika yang artinya “yang datang setelah fisik”. Istilah tersebut diberikan oleh Andronikos dari Rhodos (70 SM) terhadap karya-karya Aristoteles yang disusun sesudah (meta) buku fisika.
Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Metaphysica mengemukakan beberapa gagasannya tentang metafisika antara lain:
·  Metafisika sebagai kebijaksanaan (sophia), ilmu pengetahuan yang mencari prinsip-prinsip fundamental  dan penyebab-penyebab pertama.

·  Metafisika sebagai ilmu yang bertugas mempelajari yang ada sebagai yang ada (being qua being) yaitu keseluruhan kenyataan.

·  Metafisika sebagai ilmu tertinggi yang mempunyai obyek paling luhur dan sempurna dan menjadi landasan bagi seluruh adaan, yang mana ilmu ini sering disebut dengan theologia.
Dari ketiga keterangan Aristoteles tentang metafisika tersebut,  sebenarnya terdapat dua obyek yang menjadi metafisis Aristoteles yaitu, (a) yang ada sebagai yang ada being qua being dan (b) yang Ilahi (theologi atau ketuhanan).
Apabila di kaitkan dengan seni, kita dapat mengkaji seni berdasarkan dua objek metafisis aristoteles yaitu (a) yang ada sebagai yang ada( being qua being )dan (b) yang Ilahi (theologi atau ketuhanan).
1.      Seni dikaji berdasarkan yang ada sebagai ada ( being qua being)
Jika kita membahas seni berdasarkan yang ada sebagai ada (being qua being), mungkin kita bisa berangkat dari awal mulanya seni di atas muka bumi ini. Menurut pemikiran saya, seni sudah terlahir sejak terciptanya susunan planet yang ada di galaksi ini. Kita semua tau, bahwa planet-planet yang ada di galksi ini, yaitu merkurius, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, uranus, neptunus dan pluto telah tersusun dengan teratur sesuai dengan prosnya dalam mengintari matahari agar tidak saling berbenturan. Yang Berarti ada suatu keterauran dan kedisiplinan yang mengikat antara setiap planet. Dan juga setiap planet memiliki nilai estetika yang sangat luas. Baik itu di lihat dari bentuk luarnya, maupun isi dalamnya.
Di dalam seni, keteraturan dan kedisiplinan sangatlah penting untuk menghasilkan sebuah karya yang indah. Saya kerucutkan lagi pada ruang lingkup seni musik, di dalam musik terdapat berbagai macam aturan dan kedisiplinan dalam membuat suatu karya komposisi musik. Sebagai contoh , untuk membuat suatu komposisi musik, para komposer tidak bisa terlepas dari teori musik, ilmu harmoni, yang sudah di bakukan oleh parah ahli musik terdahulu.
Teori musik membahas banyak tentang simbol-simbol notasi yang sudah menjadi bahasa musik dunia. Terlepas dari itu, dalam membuat suatu komposisi musik, kita pun tidak bisa lari dari ilmu harmoni, yang mengatur keselarasan nada agar tersusun teratur dan dapat didengar indah berdasarkan harmoninya.
Berdasarkan kedua perbandingan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa seni itu memang sudah ada sejak lama. Dan seni memang sudah terlahir seiring terciptanya planet di galaksi ini.

2.      Seni dikaji berdasarkan yang ILAHI (theologi atau ke-TUHANAN)
Seni adalah sesuatu yang indah, TUHAN pun sangat mencintai keindahan. Kajian filsafat seni dalam konsep yang ILAHI (theologi / ke-TUHANAN) tidak bisa terlepas dari pandangan nilai etika dan estetika.
a.       Etika
Ada beberapa teori tentang nilai baik dan buruk (Etika). Pertama, misalnya teori nilai dari islam. Dalam islam nilai (etika) direntang menjadi lima kategori: baik sekali, baik, netral, buruk, buruk sekali ( wajib, sunnah, mubah, makruh, haram). Nilai dalam islam ditentukan oleh TUHAN. Teori baik buruk dari hedonisme mengajarkan bahwa sesuatu dianggap baik apabila mengandung hedone (kenikmatan, kepuasan) bagi manusia. Teori ini sudah ada sejak zaman yunani kuno.
b.      Estetika
Nilai baik sebanding dengan nilai indah, tetapi kata “indah” lebih sering dikenakan pada seni, sedangkan “baik” pada perbuatan. Di dalam kehidupan, indah lebih berpengaruh ketimbang baik. Sebagian besar orang lebih tertarik pada rupa ketimbang tingkah laku. Orang yang tingkah lakunya baik (etika), tetapi kurang indah (estetika), akan dipilih belakangan. Yang dipilih lebih dulu adalah orang yang indah, sekalipun kurang baik.
Menurut plato, keindahan adalh realitas yang sungguh-sungguh, suatu hakikat yang abadi, tidak berubah. Sekalipun ia menyatakan bahwa harmoni, proporsi, dan simetri, adalah yang membentuk keindahan, ia tetap berpendapat bahwa ada unsur metafisik dalam keindahan. Baginya keindahan suatu objek, bukan berasal dari objek itu, akan tetapi keindahan itu yang menyertai objek tersebut.
Bagi plotinus, keindahan adalah pancaran akal ILAHI, bila ILAHI memancarkan diri-NYA maka itulah keindahan.
Seniman adalah orang yang tajam daya tangkapnya, yang dapat menangkap sinar ILAHI. Di dalam islam disebutkan bahwa TUHAN itu indah dan mencintai keindahan.
Lantas, apa kaitannya seni dengan kedua nilai di atas? Seni memang tidak bisa lepas dari nilai etika  & estetika. Tak jarang, terkadang sebuah karya seni menjadi kontrofersi di tengah masyarakat. Biasanya karya seni yang menjadi buah bibir adalah karya seni yang lari dari nilai etika dan hanya mengedepankan nilai estetika.
Jika seni dikaji berdasarkan konsep yang ILAHI (theologi / ke-TUHANAN) maka kita tidak bisa hanya mengedepankan estetika dan mengesampingkan etika dalam penciptaan sebuah karya seni. Karena TUHAN adalah pencipta semesta alam ini dan pembuat segala aturan di muka bumi ini.
Indah dari sudut pandang estetika, belum tentu sejalan dengan sudut pandang etika, jika seni hanya mengedepankan keindahan saja, maka itu adalah estetika seni ( art to art) seni untuk seni.
Tapi seni yang berdasarakan konsep ILAHI ( theologi/ke-TUHANAN) maka wajib memepertimbangkan nilai etika dan estetika.


Ekspresionisme
Penganut paham ekspresionisme memiliki dalil bahwa "Art is an expression of human feeling" atau seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia. Aliran ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seseorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni.
Perintis aliran ini Benedetto Croce (1866-1952) menyatakan bahwa seni dalah pengungkapan dari kesan-kesan ( art is expression of impresion). Menurut Croce ekspresi sama dengan intuisi. Intuisi adalah pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui pengkhayalan tentang hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan ( images ) (The Liang Gie, 1976:75).
Ekspresionisme juga didefinisikan sebagai kebebasan distorsi bentuk dan warna untuk melahirkan emosi ataupun sensasi dari dalam yang biasanya dihubungkan dengan kekerasan atau tragedi. Ekspresionisme menjajagi jiwa dan menemukan ` Sturm und Drang' dan pancarannya keluar merupakan media yang baik untuk melukiskan emosiny
Tokoh pelukis Ekspresionisme di Indonesia adalah Affandi (Soegeng Toekio, 1987:40). Pengungkapan berwujud berbagai gambaran angan-angan misalnya images warna, garis, dan kata. Mengungkapkan bagi seseorang berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar.
Seorang tokoh lain dari aliran ini adalah Leo Tolstoy. Ia berpendapat: "Memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yang seseorang telah mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantaraan pelbagai gerak, garis, warna, suara atau bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata, memindahkan perasaan itu sehingga orang-orang lain mengalami perasaan yang sama, ini adalah kegiatan seni (The Liang Gie, 1976:76).

Ekspresi musik
Arti ekspresi ialah ungkapan pikiran & perasaan yg mencakup semua nuansa dari tempo, dinamik, & warna nada dari unsur-unsur pokok musik, dalam pengelompokkan frase (phrasing) yang diwujudkan oleh seniman musik/penyanyi, disampaikan kepada pendengarnya.
Ekspersi dalam bermain musik sangat penting karena menyangkut perasaan yang mewakili isi dari lagu yang akan disampaikan oleh penciptannya.Ekspresi dalam musik adalah ungkapan pikiran dan perasaan yang mencakup nuansa tempo dinamik, dan gaya dari unsur -unsur pokok musik. Unsur -unsur ekspresi dalam musik adalah :



a.       Tempo
Adalah kecepatan suatu lagu dan perubahan dalam kecepatan lagu tersebut. Kata tempo berasal dari bahasa Italia. Alat yang digunakan untuk menentukan kecepatan tempo adalah Metronom Maelzel. Contoh istilah tempo yang sering digunakan dalam bermain musik , presto( cepat sekali),allegro (cepat gembira), allegretto (agak cepat), moderatto( sedang), andante(seperti orang berjalan), adagio (lambat) dan lain sebagainya
b.      Dinamik
Dinamik dalam musik adalah tanda untuk menyatakan tingkat volume suara, keras lunaknya suara serta perubahan-perubahan yang terjadi.
c.       Gaya
Gaya dalam ekspresi musik adalah cara penyampaian melodi atau lagu yang akan disampaikan dalam penyajian musik. Misal legato (tersambung halus), staccato terputus-putus), dan sforzando (bertekanan).
Dag Österberg (2005:19) berargumen musik sebagai ekspresi dan kegiatan ekspresif berhubungan dengan sifat-sifat alami tubuh manusia yang berfungsi sebagai media ekspresi yang potensil dan bawaan lahir. Seperti perasaan senang, marah, takut, sedih, bisa diekspresikan melalui sinar mata, senyuman, atau gerakan anggota tubuh lainnya. Ekspresi yang diwarnai kekhasan budaya ibu ini pun sejak kecil sudah kita kenal dan ketika ekspresi ini dilakukan, ia tidak berlangsung asal-asalan; bahkan upaya mengelaborasinya adalah bertujuan untuk mengentalkan dan memperkaya makna yang hendak diungkapkan itu. Ekspresivitas adalah hubungan internal antara apa yang diekspresikan dan ekspresi itu sendiri. Teori dan konsep inilah yang mendasari sosio-musikolog Barat dalam menginterpretasikan ekspresi musik.
Dalam sejarah musik Barat, musik sudah dianggap sebagai ekspresi perasaan, paling tidak, setelah jaman Barok, 1750. Tapi pendekatan ini sesungguhnya sudah dimulai sejak renaisance. Di jaman Rococo dikaitkan dengan emosi, dan puncaknya adalah di jaman Romantik: jaman kejayaan musik instrumental yang juga disebut jaman peluapan emosi tak terbatas. Di awal abad 20, ekspresivitas digegerkan oleh pandangan Stravinsky yang menyatakan “musik tidak mengekspresikan apa-apa.” Sejak itu sejarah musik Barat berusaha menggayuti “objektivitas baru.” Tetapi anti-romantisme ini tak pernah sukses. Sampai saat ini budaya musik Barat masih dalam domain ekspresivitas ini. Tetapi di balik sejarah itu, pertanyaan besarnya adalah bagaimana cara masyarakat dan budaya Barat mengapresiasi ekspresi musik ini? Bagaimana para ahli (sosiolog, musikolog) melihat hubungan ekspresi musikal dengan struktur sosialnya. Situasi dan struktur sosial seperti apakah yang bisa diekspresikan melalui musik, atau musik seperti apakah yang bisa dikatakan mewakili struktur sosial itu?

Pendekatan para ahli untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan ini adalah melalui musik itu sendiri. Yaitu melalui rekaman bunyi yang dicatat dalam simbol-simbol, pengkodean, teori musik Barat. Susunan bunyi yang bisa diidentifikasikan melalui kode-kode musik itu dimaknai mewakili suasana dan perasaan hati pada saat musik itu dimainkan atau diperdengarkan—tentu dalam konsep budaya musik Barat.
Nada minor dipersepsikan mewakili suasana/rasa sedih. Konsep blue note dalam musik blues adalah nada sedih, yaitu nada ters minor dalam akor mayor. Sedangkan nada-nada mayor dimaknai sebagai suasana hati gembira, ceria.
Sekedar membandingkannya dengan musik orang Toba, misalnya, nada mayor sebaliknya mengekspresikan melodi yang pedih memilukan. Terutama tradisi ratapan (lamenta) dalam upacara kematian yang disebut mangandung. Lompatan nada ters minor —dalam akor dasar minor—tidak dikenal pada musik vokal ini. Dengan meminjam teori musik Barat mendeskripsikannya, dapat dipastikan melodi sedih yang menyayat hati itu menggunakan kualitas tangga nada mayor. Ini bukan mengada-ada, tetapi ciri-ciri dan warna budaya musik Toba itu sendiri.
Kalau penyeteman (tuning) alat musik hasapi juga dideskripsikan melalui teori musik Barat, misalnya, maka dua dawai yang terdapat pada alat musik ini menghasilkan interval ters mayor: nada do pada tali kedua, dan nada mi pada tali satu (E – G#). Contoh lain, kalau anda punya rekaman lagu-lagu Toba berirama sedih, seperti Inang (Charles Hutagalung), itu bukan dari tangganada minor, tapi “mayor.”
Akor konsonan, yaitu susunan tiga nada vertikal yang konvensional—seperti do, mi, sol, (c, e, g) dalam konsep harmoni tradisional—dikonotasikan keselarasan, kemapanan, dan kerukunan sosial, sedangkan akor-akor disonan (harmoni modern yang bersuara miring seperti akor jazz, misalnya) dikonotasikan sebagai konflik, perselisihan, dan permusuhan. Benturan nada-nada yang rapat berjarak setengah langkah (100 cent) pada akor disonan dianggap mewakili konfilk sosial.
Dalam komposisi musik Barat, pergeseran antara tangga-nada mayor dan minor sengaja diciptakan dan direkayasa terus menerus. Begitu pula kombinasi akor atau bentuk harmoni konsonan, disonan, serta modulasinya terjadi secara terus menerus.



Teori Organis

untuk memahami seni secara teori organis dalam filsafat, maka kita harus membedah terlebih dahulu apa itu organis atau organisme. menurut kamus besar bahasa indonesi (KBBI) organisme adalah susunan yang bersistem dari berbagai bagian jasad hidup untuk suatu tujuan tertentu.
filsafat organisme mungkin disebut sebagai satu-satunya sistem pengetahuan yang paling radikal mengkritik paradigma sains modern. meskipun sistem berfikir ini lahir di awal abad yang lalu, namun tetap relevan untuk di bahas sekarang.filsafat yang dirintis oleh alfred north whitehead ini mencoba melakukan revitalisasi terhadap tradisi ontologi.
whitehead meyakini filsafat organisme mengedepankan keutuhan, integrasi, di antara jejaring realitas dalam bingkai pemikiran sitemik.dalam proses and reality (1978), dia mengatakan bahwa tujuan dari filsafat organisme adalah mencanangkan kosmologi baru, yang berbasis pada sistem, dimana usnsur-unsur pembentukan sistem tersebut bersinergi menciptakan keteraturan yang padu.artinya, ada kesalingterkaitan antara unsur-unsur tersebut menciptakan entitas utuh yang tidak hanya sekedar penjumlahan dari unsur-unsur pembentuknya.
alfred nort whitehead (1929) menyatakan realitas adalah proses, dan proses adalah realitas. artinya realitas itu bagian dari proses, dan realitas itu selalu berubah atau berproses untuk menjadi realitas baru. filsafat organisme mengajarkan bahwa realitas ini satu dan bagian dari realitas itu di sebut entitas. contohnya adalah tubuh manusia yang terdiri dari banyak organ yang saling terikat. semua organ itu harus bekerja sama agar tubuh itu tetap sehat dan orangnya hidup bahagia.
menurut xun-zi, mengajarkan bahwa masyarakat perlu diatur secara organis. negara adalah suatu organisme, pemerintah sebagai kepalanya, aparatur negara adalah kaki tangannya, rakyat adalah bagian dari organ tubuhnya.
Masyarakat Negara sebagai organisme.Xun Zi menganggap Negara sebagai organisme. Dia menata ekonomi juga berdasar filsafat organisme.Pemimpin Negara diumpamakan sebagai kepala. Ajaran Xun Zi ini dipraktekan di Negara Jepang dan RRC dalam mengelola Negara agar teratur dan berdampak positif pada kemajuan negara.
berdasar pendapat dari beberapa ahli di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa seni pun juga demikian. seni merupakan suatu organisme yang terdiri dari beberapa partikel yang membentuk suatu kesatuan utuh. kita kecilkan lagi pada ruang lingkup seni musik, jika kita mengkutip dan membandingkan pendapat yang terlontar dari xun zi, bahwa teori organis dalam seni juga sama demikian.
bahwasannya seni pun perlu di atur secara organis. seni adalah suatu organisme, musik sebagai kepalanya, para musisi dan pakar musik adalah kaki tangannnya, penikmat musik adalah bagian organ tubuhnya.
Mengapa demikian? Karena memang seni harus di atur sedemikian rupa agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam berkesenian. Baik itu di tinjau dari etika maupun estetika. Ada beberapa pertimbangan bagi setiap seniman yang harus difikirkan sebelum melahirkan sebuah karya seni.
Dalam ruang lingkup seni musik pun demikian adanya. Para musisi yang ada harus betul-betul mempertimbangkan karya musiknya baik itu dari segi teori musik dan harmonisasinya agar dapat terlahir sebuah karya yang indah dapat diterima dengan baik oleh penikmatnya.
Seni pun juga sejalan dengan pendapat alfred nort whitehead (1929) yang menyatakan bahwa realitas adalah proses, dan proses adalah realitas. Realitas seni itu adalah bagian dari proses berkesenian, dan realitas seni itu selalu berubah atau berproses untuk menjadi realitas seni yang baru.


Kontekstualisme
Berdasarkan KBBI (kamus besar bahasa indonesia) kontekstualis adalah Aliran yang menyelidiki makna dalam bahasa dengan metode probabilitas dan memusatkan diri pada distribusi formal bentuk bahasa, ujaran, dan hubungan antara ujaran atau wacana dan lingkungan fisik dan sosial
Kontekstualisme dalam epistemologis adalah suatu paham dalam filsafat pengetahuan. Paham ini beranggapan bahwa kebenaran dari sebuah pernyataan tergantung dari konteks mana dia dinyatakan. Kontekstualisme dalam pengetahuan merupakan argumen yang baik untuk menghadang argumen skeptis.
Pertama kita harus mengenal mengenai argumen skeptis. Argumen skeptis berpendapat bahwa kita tidak mungkin memiliki pengetahuan di sekeliling kita. Kita ambil saja contohnya pengetahuan bahwa saya memiliki sebuah gitar. Pengetahuan ini jelas sekali, bahwa saya melihat gitar saya, saya bisa merasakan ini saya dan saya bisa memainkannya sehingga menghasilkan bunyi yang harmoni.
Namun demikian Skeptisisme mengajukan argumen “Brain In Vat” atau “Otak dalam wadah”. Pernah melihat film The Matrix, dari film itu kita menjadi ragu apakah pengetahuan yang kita dapat mengenai alam sekeliling kita adalah pengetahuan asli ataukah itu hanya suatu simulasi yang dibuat oleh mesin. Teori Brain In Vat atau disingkat BIV adalah teori yang menyatakan bahwa kita tidak pernah yakin bahwa tubuh kita ini asli dan bukan hanya simulasi di komputer. Kita sekarang hanyalah sebuah otak yang mengambang dalam wadah yang tersambung dengan kabel-kabel.

Dengan kata lain sebenarnya kita tidak memiliki tubuh. Dari sini ada tiga argumen yang bisa diambil.
  1. Saya tahu bahwa saya memiliki gitar.
  2. Saya  tidak tahu apakah saya punya tangan karena saya tidak yakin apakah saya BIV
  3. Saya tidak tahu apakah saya BIV
Ada tiga jenis argumen semacam ini. Skeptisisme menganggap, karena kita tidak bisa yakin apakah kita BIV, maka kita tidak bisa meyakini apapun. Kontekstualisme beranggapan bahwa pernyataan itu kebenarannya tergantung dari konteksnya. Apakah dengan standar tinggi atau tidak. Jika kita menggunakan standar tinggi dalam pengetahuan kita, maka bisa dibenarkan. Sedangkan salah, jika kita memakai standar rendah. Maka yang benar dan bukan.
Dalam filsafat ilmu, kontekstualisme bisa berarti term teoritis hanya memiliki makna kontekstual. Maksudnya adalah bermakna ketika mereka memainkan peranan dalam sistem deduksi dan konsekuensi yang telah dites secara empiris.







0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts

There was an error in this gadget

Blog Archive

Categories

sponsor

kontera

Blog Ads